Teaching Kindergarten Students

Ini pengalaman pribadi saya. Saya dulu tidak tahu harus bagaimana kalau mengajar anak TK. Dulu sempat saya mau nyerah waktu training karena saya sangat baru dalam hal ini. Tetapi setelah saya mengobservasi teman saya tahu bahwa anak TK itu konsentrasinya masih sangat pendek jadi tidak bisa berlama-lama di satu aktivitas. Aktivitas harus bervariasi.

Di bawah ini contoh saja ya, semoga berguna. Kelas kindergarten biasanya berlangsung selama satu jam dan idealnya memang seperti itu. Nah, satu jam itu dibagi sebagai berikut.

Contoh topik pengenalan warna:

10 menit pertama:

  • Guru membawa media berupa flashcards yg bergambar cat warna merah, kuning, dan hijau, dan biru.
  • Guru: It’s red. (guru meminta siswa mengulang seusai mengucapkan satu warna)
  •           It’s blue.
  •           It’s yellow
  •           It’s green

10 menit kedua:

Guru meminta anak menirukan lagi tapi kali ini per meja. Contoh: Bila anak-anak di meja 1 diminta mengulang, instruksikan anak-anak di meja lain untuk diam supaya anak-anak di meja 1 fokus hanya pada guru. Anggaplah ada empat meja di ruangan, satu meja isi empat anak. Maka, nanti anak-anak di masing-masing meja mendapatkan kesempatan untuk mengulang. Mulai dari meja pertama dulu.

Guru memulai mengucapkan lagi. It’s red. It’s blue. It’s yellow. It’s green. Begitu seterusnya dari meja 1 sampai meja 4.

Ini sudah 20 menit ya…lalu 10 menit berikutnya ajaklah anak untuk menyanyi. Guru mencontohkan dulu lagunya seperti apa. Mintalah anak-anak untuk mendengarkan terlebih dahulu.

Red, and yellow, blue, and green, blue and green, blue and green

Red, and yellow, blue, and green, color, color, color.

Setelah itu guru mengajak anak-anak satu kelas itu untuk menyanyikan lagu ini 2x.

Setelah itu lekatkanlah flashcards bergambar cat tadi di papan tulis dengan selotip. Sekarang guru menyanyikan lagu tadi sambil menunjuk pada flashcards bergambar cat itu. Ketika menyanyi dan tiba pada kata ‘red’ tunjuklah flashcard bergambar cat merah, ‘yellow‘ pada flashcard bergambar cat kuning dan seterusnya supaya anak-anak semakin tahu mana yang ‘red’, mana yang ‘yellow’, mana yang ‘blue’, mana yang ‘green’.

Bila waktu cukup, bisa kembali ke aktivitas seperti tadi, menunjuk anak-anak per meja untuk maju ke depan, menyanyi dengan teman-teman semeja mereka sambil menunjuk flashcard yg ditempel di papan sewaktu mereka menyanyi.

Lalu di 15 menit terakhir, anda bisa menyiapkan kertas putih yg di atasnya telah diprint gambar tumpahan cat tapi yang belum berwarna. Jadi masing-masing anak dapat empat kertas karena mereka belajar empat warna hari ini. Lalu minta lah mereka untuk mewarnai keempat kertas itu dengan warna yang sudah diajarkan.

Jadi disini yang penting dinamika kelas karena anak cepat bosan dan tidak bisa berkonsentrasi lama-lama. Menulis belum jadi bagian dari pembelajaran bahasa Inggris di TK karena fokusnya lebih ke spoken Englishnya dulu. Anak-anak seusia ini bahasa Indonesia pun masih dalam tahap belum sempurna, maka dari itu menulis apalagi dalam bahasa Inggris belum disarankan untuk level ini.

Advertisements

What do You Think about these Things?

Hai pembaca. Untuk saat ini saya tidak menulis tentang pembelajaran Bahasa Inggris karena ada pengalaman yang mengganjal hati saya. Untuk itu saya share kan dengan teman-teman supaya bisa jadi diskusi menarik dan bisa saling memberi masukan. Apalagi bila kita bergerak dalam bidang pendidikan, saya tahu ini lebih dari sekedar mengajar tetapi mendidik, membudayakan yang baik. Silakan berkomentar dengan cara yang sopan dan pantas.

Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke suatu supermarket dengan seseorang yang bernama X. Singkat cerita supermarket ini adalah satu2nya tempat belanja yang menarik dan representatif di kota kecil ini (yang namanya tidak perlu disebutkan). Karena lengkapnya persediaan dan stok banyak orang-orang yang membeli dalam partai besar (kulakan) di supermarket ini. Supermarket ini sudah terkenal sangat ramai. Tiba saatnya saya antri di kasir. Di depan saya sudah banyak pembeli lain yang antri sampai akhirnya tiba giliran seorang ibu yang antri di depan saya. Sesudah melayani ibu itu, kasir bukannya melayani saya tetapi dia melayani seseorang yang sudah menunggu di ujung depan antrian tetapi tidak antri dari belakang. Saya merasa tidak nyaman tetapi perasaan itu hanya saya simpan di hati. Sementara itu X yang saya tahu memang temperamen, langsung marah besar pada si kasir dan seseorang yang tidak antri itu. Lalu si kasir mencoba menjelaskan kalau si wanita ini sebut saja Z sudah antri dari tadi dan si kasir pun menunjukkan tas kresek besar berisi barang2 yang sudah Z beli. Ternyata kasusnya  sepertinya Z lupa mengambil beberapa item dan ia kembali ke dalam supermarket utk mengambil item-item yg kelupaan tadi dan karena ia sudah antri tadi, dia tidak mau antri lagi. Ketika X marah, saya merasa malu. Tetapi setibanya di rumah saya berpikir ulang.

Ini yang membuat saya kepikiran:

1) Saya memang malu X marah apalagi karena marahnya langsung blak2an tetapi bukannya antri itu memang penting? Sekarang pikir saja kasir untuk pembeli dalam jumlah banyak dan pembeli jumlah kecil dicampur. Kalau Anda dalam posisi saya apakah Anda rela sudah menunggu belasan hingga puluhan menit karena banyak pembeli yang membeli barang sangat banyak sampai dua kereta dorong penuh, lalu tiba-tiba diserobot?

2) Untung saya tidak memarahi X karena marah didepan umum, karena bila saya memarahi X bukannya saya malah jadi membela yang salah? Apalagi waktu itu alasan saya ingin memarahi X krn sudah membuat saya malu didepan umum. tetapi bukannya yang ia lakukan itu benar. Kalau lupa mengambil barang. itu resiko untuk harus antri lagi, karena budaya antri membuat semua orang dihargai.

3) Si kasir, seusai dimarahi X, bilang “Aku lagi yang kena.” Apa si kasir ini tidak tahu pentingnya untuk menghargai orang yang sudah lama-lama antri? Kenapa ia harus menyanggupi permintaan pembeli yang lupa ambil barang kalau akhirnya itu membuat orang lain rugi? Walaupun disini saya juga tidak seratus persen menyalahkan kasir. Jangan2 karena ia tidak dibriefing dulu atau tidak diberi SOP yang jelas.

Hal ini mengingatkan saya kejadian sekitar satu tahun yang lalu di sebuah supermarket lain di kota lain. Ketika itu saya berbelanja sendiri. Saya lupa kalau hari itu hari pertama libur jadi pembeli membludak.Saya sendiri antri sekitar 50 menit sampai akhirnya tiba giliran saya untuk membayar. Bayangkan hampir sejam sendiri. Lalu di deretan kasir sebelah tiba-tiba saya dengar ada seorang bapak marah-marah. Kasusnya hampir sama dengan yang saya alami tetapi sedikit berbeda. Jadi di depan bapak itu ada seorang remaja putri mengantri. Dia belanja banyak. Lalu tiba-tiba teman remaja putri ini menghampiri dia dan antri di sebelah remaja putri ini. Lalu saya masih ingat bapak itu bilang. “Saya sudah ngantri dari tadi mbak. Yang lain juga sudah antri lama. Payah banget kalau kayak gini.” Lalu teman si remaja putri ini pindah ke urutan paling belakang.

Haruskah orang lain marah dulu baru ada kesadaran? Di satu sisi saya mungkin malu karena teman saya X marah-marah. tetapi dia tahu apa yang sesungguhnya menjadi hak saya. Di satu sisi pihak yang berwajib di supermarket tersebut seharusnya bisa menyadari apa kekurangan di sistem pelayanan di supermarketnya sehingga tidak ada customers yang dirugikan. Seandainya saja yang berkewajiban membudayakan antri sudah pasti customers akan mengikuti sistem itu apalagi dengan jumlah pembeli yang tidak pernah sedikit. Kalau mereka cuek yah mungkin kesadaran antri masih jauh disana dan orang-orang termasuk customers dan kasir sampai kapanpun gak pernah akan ngerti kenapa budaya antri itu penting. Ini pengalaman tidak mengenakkan buat saya tetapi saya tidak bermaksud menyalahkan teman saya atau si kasir. Ini menjadi bahan refleksi buat saya tipe orang seperti apa yang tidak akan saya contoh apalagi semua orang dalam posisi yang sama (menunggu sampai lelah berdiri karena harus antri belasan sampai puluhan menit). Jadi seharusnya sikap menghargai itu diutamakan.

Why Is Writing Often Difficult?

Ini pengalaman saya sewaktu mengajar. Ini adalah hal yang saya amati dari murid-murid saya. Pengalaman saya bisa merepresentasikan pengalaman teman-teman di institusi lain tetapi bisa juga berbeda karena tiap2 murid memiliki masalah-masalah tersendiri yang berbeda satu dengan yang lain.

Salah satu penyebabnya adalah kemungkinan mereka tidak tahu tenses apa yang tepat untuk digunakan dalam tulisan mereka. Untuk membantu hal ini kita perlu mengajarkan konteks kapan suatu tense dapat digunakan.

Ambil saja satu kata kerja misalnya drive

1) Apakah kata drive disini ditujukan untuk mengekspresikan rutinitas (kegiatan sehari-hari)?

Kalau iya berarti contoh kalimatnya misalnya “My father drives his car to work every day/ every morning.”

Tense nya yaitu Simple Present Tense. Perlu juga diajarkan karena Simple Present Tense digunakan untuk mengekspresikan rutinitas atau sesuatu yang biasa kita lakukan secara teratur tiap hari/ tiap minggu/ tiap bulan/ tiap pagi hari, maka biasanya ditandai dengan adverb of time.

Sekarang lihat contoh berikut.

2) Kate: Tommy where are you? What about our plans?

Tommy: Call me again later. I’m driving a car.

Perhatikan kata yang dicetak miring. Saat Kate menelpon Tommy, Tommy sedang dalam perjalanan dan ia sedang dalam proses mengendarai mobilnya. Itulah mengapa dia meminta Kate untuk menelpon lagi nanti. Implikasinya ada bermacam2 mulai dari menghindari tilang sampai menghindari kecelakaan. Yang jelas karena dia sedang mengendarai mobil dia tidak dalam posisi bisa menjawab telpon.

Jadi, ketika ada murid yang kebingungan ingatkan lagi mereka tentang konteksnya. Apakah itu berkaitan dengan hal-hal yang mereka lakukan secara rutin atau kah hal-hal yang saat itu juga sedang mereka lakukan. Biasakan mereka untuk mempertimbangkan konteksnya sehingga mereka tidak kebingungan saat akan membuat kalimat.

Sekian dulu. Silakan mampir untuk memberi comment atau share pengalaman.

Yuk menganalisis kesalahan-kesalahan dalam kalimat Bahasa Inggris….

Selama mengajar saya tahu betul saya harus menjelaskan sejelas-jelasnya bahkan ketika ada siswa yang bertanya di luar materi. Contohnya, kok kalimat yang ini salah Miss? Kenapa? Nah pastinya kita dituntut untuk menguasai hal-hal semacam itu. Apalagi ini menyangkut grammar yang dianggap paling susah…kecuali kalau pelajaran speaking. Kalau dalam pelajaran speaking tak perlu terlalu fokus ke grammar dan terlalu sering mengoreksi kesalahan siswa. Yang dikoreksi hanya kalimat-kalimat atau ungkapan-ungkapan tertentu saja yang  penting untuk siswa-siswi ketahui. Nah, saat memberi latihan writing, saya menemukan ada beberapa kesalahan. Berikut contoh dan pembahasannya.

1. I very love you.

Kalimat itu salah. Kok bisa?

Bandingkan dengan kalimat ini: I am very beautiful.

Dalam kalimat I am very beautiful, kata ‘very’ menerangkan ‘I’ . Terjemahannya dalam bahasa Indonesia, saya sangat cantik. Kalimat ini benar karena ‘sangat cantik’ menerangkan saya. Tetapi penempatan kata ‘very’ dalam kalimat I very love you salah. Mengapa? Yang harusnya diterangkan itu kata ‘love’nya. Jadi kalimat itu seharusnya berbunyi I love you so much, dimana kata ‘very’ menerangkan kata ‘love’. I love you so much artinya aku sangat mencintaimu. Cara aku mencintaimu diterangkan dengan kata ‘very’ yang berarti sangat. Sama juga dengan kalimat I like chocolates very much.  Saya suka sekali coklat/Saya benar-benar suka coklat. Yang diterangkan adalah kata ‘like’nya bukan ‘I’nya.

2. a. I bought pants colored grey.

b. I bought souvenirs with cheap price.

Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kalimat a artinya saya membeli celana panjang berwarna abu-abu. Kalimat b bila diterjemahkan artinya saya membeli suvenir dengan harga murah. Masalahnya simple saja sebenarnya. Kalimat-kalimat tersebut adalah terjemahan langsung dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Dalam Bahasa Inggris, kata sifat (adjective) seharusnya diletakkan sebelem kata benda (Noun). Jadi kalimat-kalimat tersebut seharusnya seperti ini:

a. I bought grey pants.

b. I bought cheap souvenirs.

 

3. This place has many traditional food.

Ingat, bahwa food adalah uncountable noun, sementara kata ‘many’ tidak bisa digunakan untuk uncountable noun. Jadi seharusnya kalimatnay menjadi: This place has much traditional food.

 

Sekian dulu. Bagi pembaca yang mau memberikan comment, silakan…. 🙂

Bahasa Inggris: Metode Chanting

Ya, jumpa lagi dengan saya. Sebelumnya saya sudah pernah berbicara tentang chanting, tapi hanya sekilas saja. Sekarang saya akan membahas lebih lanjut. Chanting itu seperti menyanyi tapi bukan menyanyi. Kalau Anda pernah melihat para cheerleaders tampil, mereka akan menyorakkan yel-yel. Nah, chanting itu kira-kira semacam itu. Jadi bukan sebuah lagu tapi berirama. Metode ini bisa digunakan untuk mengajar anak kecil maupun anak-anak SMA/ kuliah.

Nah, saya akan membahas dulu tentang penggunaan chanting untuk anak kecil. Seperti yang sudah pernah saya tulis, kira-kira seperti ini.

Teacher :”What have you got in your bedroom?”

Student: “a bed/ a pillow”

Teacher: “What have you got in your bathroom?”

Student: A toothbrush”

Disini aturannya si anak bisa menyebutkan benda-benda apa saja yang terdapat di setiap ruangan di dalam rumah. Tentunya sebelumnya Anda sudah harus mengajarkan vocabulary/ kosakata nama-nama benda kepada anak.

Nah, waktu itu saya pernah menggunakan metode yang sama untuk mengajar anak kuliah karena pada saat itu topiknya adalah Describing Things. Tentunya setiap siswa harus bisa mendeskripsikan benda dengan benar. Masih ingat kan ketika kita di SMA dulu diajari materi seperti ini:

1. A beautiful girl.

2. A beautiful Irish girl.

3. An expensive table.

4. An expensive wooden table.

5. An expensive round wooden table.

Dulu kita diajari urut-urutan semacam itu kan waktu belajar Bahasa Inggris? Nah, sebelum para siswa mendeskripsikan benda, saya memulainya dengan metode chanting seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Langkah-langkahnya seperti ini:

1. Saya meminta para siswa untuk berdiri dan membuat lingkaran.

2. Anak yang ditunjuk pertama kali harus bertanya “What have you got in your bedroom?”

3. Teman di sebelah si penanya harus menjawab. Saat menjawab, ia harus menyebutkan satu/ dua benda yang ada di kamar tidur. (a bed/ a pillow, etc.)

4. Siswa yang ditanyai sekarang menjadi si penanya dan teman di sebelahnya harus menjawab dengan cara seperti yg tersebut di atas. Begitu seterusnya sampai semua anak mendapat giliran menjadi si penanya dan yg ditanya.

5. Jawaban yang diberikan siswa kepada si penanya (misal jawabannya “a pillow“) itulah benda yang harus ia deskripsikan dalam Bahasa Inggris tentunya. Jadi pillow (bantal) itu bentuknya seperti apa, terbuat dari apa dan sebagainya.

Namun, ternyata dalam pelaksanaannya, saya menemui kendala yang tidak saya prediksi sebelumnya. Apa kendalanya? Kendalanya yaitu para siswa yang ditanya kadang-kadang berpikir dahulu apa ya Bahasa Inggrisnya pasta gigi, apa ya Bahasa Inggrisnya bantal? Nah, game menggunakan metode chanting yang saya prediksikan untuk bisa membuat para siswa antusias ternyata malah jadi game yang tidak mengasyikkan sama sekali karena ada beberapa siswa yang berpikir terlalu lama. Nah, solusinya saya seharusnya mereview terlebih dahulu nama-nama benda jadi game ini berjalan lancar. Inilah yang saya dapatkan dari pengalaman saya mengajar. Semoga cerita saya ini juga bermanfaat bagi Anda. 🙂

 

Salam.

 

 

Cara Mengajar Bahasa Inggris Untuk Anak SD (Speaking)

Sudah membaca kan artikel sebelumnya  tentang penggunaan media (kain flanel) untuk membuat anak lebih betah belajar? Sekarang kita fokus ke hal lain. Yang saya ajar adalah anak kelas 4 SD. Di SK KD untuk kelas 4, para murid sudah harus bisa mengungkapkan kesantunan dalam percakapan. Untuk hal ini  saya menekankan penggunaan “Can I?”,”Could I”,”May I”, “Do you mind if…”

Ketika saya dan si anak membuat smiley dari kain flanel, saya sengaja hanya menyiapkan satu gunting. Saya tidak memintanya menyiapkan sendiri. Kemudian saya tanya “Tahu apa yang harus dikatakan kalau mau pinjam sesuatu?”

Kemudian saya memintanya mengucapkan: “Do you mind if I borrow your scissors?” Lalu saya jelaskan kenapa memakai “Do you mind…” karena itu pernyataan yang sopan dan formal ketika kita ingin melakukan sesuatu dan karena dia (si anak) berbicara pada orang yang lebih tua. Lalu saya juga bilang pakai ‘May I?” juga boleh. “May I borrow your scissors?”

“Can I borrow your scissors?” boleh digunakan asal dengan teman sebaya. Kemudian, saya juga menekankan penggunaan kata ‘please’ di belakang, supaya kalimat juga terdengar lebih sopan. Supaya anak tidak lupa aturan-aturan ini, cobalah ulangi di pertemuan-pertemuan berikutnya saat mereka ingin melakukan sesuatu (meminta ijin untuk melakukan sesuatu).

Saya juga selalu mengevaluasi cara mengajar saya. Setiap selesai memberikan les privat, saya selalu mengingat-ingat apa yang berhasil apa yang tidak. Bila ada metode atau teknik yang tidak efektif, sebaiknya diganti dengan cara lain yang lebih tepat.

Mengajar Bahasa Inggris Untuk Anak SD (Speaking)

Ya, sekarang lanjut ya ceritanya. Sebelumnya saya sudah bercerita kalau mengajar anak SD itu ya gampang ya susah. Gampang karena topik-topiknya masih mendasar. Susah karena kemampuan mereka berkonsentrasi sangat singkat. Kemudian saya memutuskan untuk memakai media atau alat bantu. Di sini fokusnya adalah speaking skill karena orang tuanya meminta saya untuk mengajarkan speaking skill. Nah, saya ingin mengajarkan kepada anak ini soal imperative namun yang sederhana. Saya sudah menyiapkan alat dan bahannya yang terdiri dari:

1. kain flanel

2. gunting

3.spidol hitam

4. lem

5. tutup gelas (untuk membuat lingkaran)

Nah disini kemudian saya memulai memberikan instruksi sambil memperagakan. memperagakan itu keharusan karena anak akan mengerti arti suatu kata tanpa kita harus memberitahu artinya dalam Bahasa Indonesia. Lagipula menurut saya cara paling efektif mengajar anak kecil adalah dengan memperagakannya, kalau kita men-translate kata itu ke Bahasa Indonesia malah akan cepat lupa. (Ini merupakan pelajaran yang saya ambil saat kuliah serta pengalaman ibu saya yang juga mengajar Bahasa Inggris)

1. Draw a big circle.

2. Draw two small circles.

3. Draw a curve.

4. Cut the big circle.

5. Cut the small circles.

6. Stick the small circles on the big circle.

7. Stick the curve on the big circle.

8. This is it. Now you have a smiley.

*Note: Ketika saya mengatakan draw, saya langsung memperagakannya dengan menggambar lingkaran di kain flanelnya. Ketika saya bilang big, saya juga memperagakannya, meski si anak sudah tahu. Ini hanya untuk memastikan dia mengerti.

Kemudian saya meminta dia untuk mencoba mengulang instruksi yang saya berikan di atas. Saya tetap bimbing dia apabila dia lupa kata-kata apa saja yang saya gunakan untuk memberi instruksi tadi. Hasilnya, si anak senang dan betah. Biasanya saya hanya bisa mengajar dia efektif 1 jam, tapi cara ini berhasil dan dia bertahan 1 jam 20 menit. 🙂