Pendidikan karakter: Mengapa perilaku itu penting (Why manners matter) Part2

Pernah saya bekerja sebagai pengajar. Suatu saat saya memberikan tugas untuk kelas. Setelah memberi penjelasan, saya memastikan mereka semua tahu pasti tugasnya, dan mereka memang sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan. Seminggu setelahnya, hanya tiga hari sebelum saya mengajar lagi, seseorang bilang pada saya untuk meminta mengurangi porsi tugas. Lalu saya katakan tidak bisa seperti itu lagipula saya juga hanya meminta mereka membawa draft, tidak lebih dari itu. Kan draft itu hanya kasaran saya tidak meminta mereka untuk membuat tulisan yang benar-benar sudah jadi. Lalu dia mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak sopan. Akan beda jadinya bila dia mengatakan itu secara benar dan baik.

Saya merasa caranya berbicara pada saya sungguh tidak sopan. Mungkin karena dia tahu selisih umur saya dengan dia hanya sedikit sehingga dia tidak memposisikan saya sebagai pengajarnya. (Dia juga pernah sms dan menyebut saya dengan kata ‘kamu’) Yang bisa kita analisa di sini adalah belum tentu dia seseorang yang tidak sopan, bisa jadi dia sopan ketika berbicara dengan orang lain hanya saja saat itu dia benar-benar stres karena banyak hal yang harus ia kerjakan, atau, dia memang benar-benar tidak sopan dan tidak tahu bagaimana cara bicara yang baik kepada orang lain.

Bagi saya mengajar tidak sekedar berbagi wawasan mengenai suatu mata pelajaran tapi juga bagaimana saya bisa membentuk seseorang untuk jadi lebih disiplin, jujur dan berterus terang, dsb. Di tengah emosi saya yang makin memuncak karena masalah tersebut, saya masih mampu menahan emosi saya dan berpikir ulang. Saya kemudian berpikir kalau saya marah berarti saya gagal karena terpancing. Kalau begitu saya sendiri bukan pengajar yang baik. Saya yakin mungkin dia tidak bermaksud begitu. Saya tahu dia anak yang baik dan hanya perlu diingatkan saja dan saya tidak perlu marah meluap2. Kemudian saya akhirnya menggunakan satu cara yang saya pikir efektif untuk membuat mereka sadar perilaku. Di pertemuan berikutnya saya mengatakan ini: Kalau saya sebagai pengajar di sini lalu saya kirim sms ke salah satu dari kalian yang berbunyi “Eh bilang ke temen2 kamu kalau ada informasi yang kelupaan cepetan sana!” apakah itu bisa dibilang sopan? Dan mereka semua mengatakan tidak. Nah dari sini saya tekankan kapanpun bila ada sesuatu yang penting yang belum jelas mereka bisa menghubungi saya kapanpun tapi ada etikanya yaitu dari bahasa dan cara berbicara, kemudian dari segi waktu, kalau pagi jangan terlalu pagi, malam juga tidak kemalaman.

Kemudian dari sini saya lihat mereka memang memperhatikan hal2 yang saya tekankan di atas. Saya pun lega mengetahui hal ini. Inilah yang kadang penting tapi sudah hampir hilang dari sistem pendidikan kita. Pendidikan itu segalanya bukan sekedar nilai A atau 100. Jadi, menyisipkan hal-hal seperti di atas saat mengajar sangatlah perlu karena itu menyangkut etika. Manusia itu punya rasa.  Ada baik dan buruk. Etika itu adalah bagaimana kita mampu berperilaku yang semestinya terhadap orang lain. Kelakuan buruk akan menyakiti orang lain dan bila sudah terlanjur akan membuat tatanan di lingkup yg lebih luas semakin rusak.

Ini hanya sharing saja semoga ini menambah wawasan.

Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s