What do You Think about these Things?

Hai pembaca. Untuk saat ini saya tidak menulis tentang pembelajaran Bahasa Inggris karena ada pengalaman yang mengganjal hati saya. Untuk itu saya share kan dengan teman-teman supaya bisa jadi diskusi menarik dan bisa saling memberi masukan. Apalagi bila kita bergerak dalam bidang pendidikan, saya tahu ini lebih dari sekedar mengajar tetapi mendidik, membudayakan yang baik. Silakan berkomentar dengan cara yang sopan dan pantas.

Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke suatu supermarket dengan seseorang yang bernama X. Singkat cerita supermarket ini adalah satu2nya tempat belanja yang menarik dan representatif di kota kecil ini (yang namanya tidak perlu disebutkan). Karena lengkapnya persediaan dan stok banyak orang-orang yang membeli dalam partai besar (kulakan) di supermarket ini. Supermarket ini sudah terkenal sangat ramai. Tiba saatnya saya antri di kasir. Di depan saya sudah banyak pembeli lain yang antri sampai akhirnya tiba giliran seorang ibu yang antri di depan saya. Sesudah melayani ibu itu, kasir bukannya melayani saya tetapi dia melayani seseorang yang sudah menunggu di ujung depan antrian tetapi tidak antri dari belakang. Saya merasa tidak nyaman tetapi perasaan itu hanya saya simpan di hati. Sementara itu X yang saya tahu memang temperamen, langsung marah besar pada si kasir dan seseorang yang tidak antri itu. Lalu si kasir mencoba menjelaskan kalau si wanita ini sebut saja Z sudah antri dari tadi dan si kasir pun menunjukkan tas kresek besar berisi barang2 yang sudah Z beli. Ternyata kasusnya  sepertinya Z lupa mengambil beberapa item dan ia kembali ke dalam supermarket utk mengambil item-item yg kelupaan tadi dan karena ia sudah antri tadi, dia tidak mau antri lagi. Ketika X marah, saya merasa malu. Tetapi setibanya di rumah saya berpikir ulang.

Ini yang membuat saya kepikiran:

1) Saya memang malu X marah apalagi karena marahnya langsung blak2an tetapi bukannya antri itu memang penting? Sekarang pikir saja kasir untuk pembeli dalam jumlah banyak dan pembeli jumlah kecil dicampur. Kalau Anda dalam posisi saya apakah Anda rela sudah menunggu belasan hingga puluhan menit karena banyak pembeli yang membeli barang sangat banyak sampai dua kereta dorong penuh, lalu tiba-tiba diserobot?

2) Untung saya tidak memarahi X karena marah didepan umum, karena bila saya memarahi X bukannya saya malah jadi membela yang salah? Apalagi waktu itu alasan saya ingin memarahi X krn sudah membuat saya malu didepan umum. tetapi bukannya yang ia lakukan itu benar. Kalau lupa mengambil barang. itu resiko untuk harus antri lagi, karena budaya antri membuat semua orang dihargai.

3) Si kasir, seusai dimarahi X, bilang “Aku lagi yang kena.” Apa si kasir ini tidak tahu pentingnya untuk menghargai orang yang sudah lama-lama antri? Kenapa ia harus menyanggupi permintaan pembeli yang lupa ambil barang kalau akhirnya itu membuat orang lain rugi? Walaupun disini saya juga tidak seratus persen menyalahkan kasir. Jangan2 karena ia tidak dibriefing dulu atau tidak diberi SOP yang jelas.

Hal ini mengingatkan saya kejadian sekitar satu tahun yang lalu di sebuah supermarket lain di kota lain. Ketika itu saya berbelanja sendiri. Saya lupa kalau hari itu hari pertama libur jadi pembeli membludak.Saya sendiri antri sekitar 50 menit sampai akhirnya tiba giliran saya untuk membayar. Bayangkan hampir sejam sendiri. Lalu di deretan kasir sebelah tiba-tiba saya dengar ada seorang bapak marah-marah. Kasusnya hampir sama dengan yang saya alami tetapi sedikit berbeda. Jadi di depan bapak itu ada seorang remaja putri mengantri. Dia belanja banyak. Lalu tiba-tiba teman remaja putri ini menghampiri dia dan antri di sebelah remaja putri ini. Lalu saya masih ingat bapak itu bilang. “Saya sudah ngantri dari tadi mbak. Yang lain juga sudah antri lama. Payah banget kalau kayak gini.” Lalu teman si remaja putri ini pindah ke urutan paling belakang.

Haruskah orang lain marah dulu baru ada kesadaran? Di satu sisi saya mungkin malu karena teman saya X marah-marah. tetapi dia tahu apa yang sesungguhnya menjadi hak saya. Di satu sisi pihak yang berwajib di supermarket tersebut seharusnya bisa menyadari apa kekurangan di sistem pelayanan di supermarketnya sehingga tidak ada customers yang dirugikan. Seandainya saja yang berkewajiban membudayakan antri sudah pasti customers akan mengikuti sistem itu apalagi dengan jumlah pembeli yang tidak pernah sedikit. Kalau mereka cuek yah mungkin kesadaran antri masih jauh disana dan orang-orang termasuk customers dan kasir sampai kapanpun gak pernah akan ngerti kenapa budaya antri itu penting. Ini pengalaman tidak mengenakkan buat saya tetapi saya tidak bermaksud menyalahkan teman saya atau si kasir. Ini menjadi bahan refleksi buat saya tipe orang seperti apa yang tidak akan saya contoh apalagi semua orang dalam posisi yang sama (menunggu sampai lelah berdiri karena harus antri belasan sampai puluhan menit). Jadi seharusnya sikap menghargai itu diutamakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s